Senin, 09 April 2018

resume buku (dr.peribadi): prahara kehidupan kaum marjinal agraris (sebuah persfektif fenomenologi)


Kasus fenomena kaum marjinal
Bagian tiga mendeksripsikan inti pokok pembahasan dari berbagai  hasil penelitian yang telah dilakukan secara langsung dilapangan oleh penulis buku ini. Di dalamnya telah  digambarkan   berbagai kisah pilu dari masyarkat kaum marjinal yang merintih akibat  pancakelik duka nestapa kemiskinan dibalik program pengentasan kemiskinan  bertopeng kemunifakikan para penguasa yang semrawut dalam menjalankan tugasnya. Beragam potret kemarjinalan tersebut salah satunya ada di kecamatan landono yang masyrakat lokalnya menderita ditanah kelahiran sendiri sedangkan para pendatang dari konsel, bali maupun jawa Nampak sukses ditanah mereka. Diketahuai karena etos kerja yang dimiliki dalam ketiga etnis tersebut turut mempengaruhinya serta sikap subsisten yang masih dimiliki penduduk landono kegagalan para pribumi ternyata adanya ketidak mampuan mereka untuk memfaatkan peluang lahan tidur diderah mereka yang berfotensial etos kerja yang malas tersebut menjadikan mereka tertinggal dengan mereka yang pendatang baru. Hal serupa juga terjadi pada bagian wilayah moramo utara dimana para wanita berperan ganda disektor public dan domestic mencari kebutuhan hidup yang subsisten agar dapat bertahan hidup dengan melawan keadaan menjadi pemecah batu untuk jadikan suplit dan merangkap melakukan pekerjaan rumah tangga ketika pulang. Sebagaimana pada masyrakat nelayan dibungin ketergantungan akan iklim menjadikan kebutuahan hidupnya tidak menentu (uncertaintly) sehingga menjadikan mereka mencari alternatif lainnya dengan peran para istri yang lebih didominasi untuk menjadi tulang punggung keluarga untuk menopang kehidupan keluarga mereka. Sehingga sangat disayangkan keadaan tersebut terus menerus berlanjut maka sangatlah wajar jika kemiskinan menjadi bagian yang terus menghantui kehidupan mereka setiap hari.
Tentu saja etos kerja yang tinggi tidak cukup untuk membebaskan dari jerat kemiskinan meskipun bukan dipelosok desa, seperti yang terjadi di desa konda yang notabenenya komunitaas penjual sayur tetap mengalami kemelut tersebut membutuhkan pertolongan untuk modal usaha mereka dari pemerintah. Lain halnya pada masyarakat pencetak batu merah di ranoomeeto sosial ekonomi yang mempertegas etos kerja kapitalisme para pemilik modal memangkas biaya sedemikian rupa untuk keuntungannya berbanding terbalik dengan upah buruh pekerja yang datang mencari nafkah demi sesuap nasi di desa tersebut mengalami alineasi menggunakan tenaga secara fisik tanpa protes dengan upah yang diperoleh. Sedangkan potret kemiskinan yang terjadi pada masyarakat wolasi yang selalu berladang pindah-pindah mengambarkan ditengah modernisasi saat ini ada suatu kelompok masyrakat yang bertahan hidup dengan cara konvensional dan memanfaatkan alam sebagai penyambung hidup keluarga meski dengan berpindah-pindah. Gambaran kondisi masyrakat di atas dengan berbagai kepiluan untuk sekedar meminta pertolongan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan merelakan berbagaimacam ketertidasan, ketimpangan dan penerimaan akan hal ini secara terus menerus. hal wajar jika masyarakt terjerat kemiskinan. Pertanyaan yang muncul dimanakah para penguasa yang mengatur kesejahtraan negri ini yang pada awal selalu menyurakan kesejahtraan masyarakat.

Eksploitasi kapitalisme agraris
Pada bab ini menguraikan potret keadaan pedesaan di desa palangga tak ubanya lautan debu dengan dentuman mesin-mesin industry tambang yang menyesakkan. Wajah desa yang dulunya tenang dengan keasrian dan kesejukkannya kini telang hilang akibat masuknya makelar-makelar kapitalisme yang menguasai lahan-lahan kosong mereka yang ternyata di balik kediamannya mengandung kekayaan material yang mengiurkan para kanibalisme modern. Yang dalam sekejap mendatangkan mobil-mobil raksasa mengitari hutan asri nan tak berpenghuni menjadi sirkuit mereka yang menandakan telah takluknya akan moderenisasi dan industrialisasi yang rakus akan kemegahan materialism.
Fenomena eksploitasi Agraris, ekspolitasi tidak hanya terjadi pada struktur fisik hutan yang semakin kehilangan eksistensinya. Rupanya eksploitasi kapitelisme agraris  juga merabat pada polarisasi kehidupan ekonomi sosial penduduk palangga sekitar. Masyarakat yang tidak masuk pada sector tambang menjadi korban mereka yang bekerja disektor agraris harus mengalami penurunan pendapatan sejak masuknya industry tersebut. Sedangakan mereka yang memiliki wilayah tanah areal pertambangan mendapat uang kaget dan menaikan status mereka yang tanpa mereka sadari mereka telah tergantung dengan dimajakannya melalui kompensasi dan rolayalti pembebasan tanah yang tidak tau suatu waktu akan diabaikan pula mereka tiba-tiba menjadi milayder baru yang keluar dari gubuk kumuh mereka. Sementara mereka yang mendapatkan remah-remah industry tersebut hanya diberikan uang penutup lara mereka untuk menghibur dari lautan debu mobil-mobil industry tersebut yang menyesakkan pernapasan. Yang sewaktu-waktu akan mengadu domba atau memecah belah lapisan-lapisan masyrakat di wilayah pertambangan
Industry pertambangan dan degradasi lingkungan sosial. Keadaan eksploitasi yang dilakukan penambang nikel ibarat menunggu bom waktu yang siap meledak, yang juga membawa dampak negative berupa benca alam dan kerusakan lingkungan yang diakibantkannya pada wilayah palangga. Meskipun ada ganti rugi hal ini tidak dapat menyembunyikan permasalahan yang ada pada masyrakat sebagaian kepala keluarga harus kehilanggan matapecahariannya karena bergantung pada hasil sumber daya alam yang semakin berkurang pada petani rumput laut. Mereka tidak dapat penghasilan sebagaimana sebelum masuknya industry tersebut ganti rugi tidak setara dengan penghasilan yang diperleh setiap bulannya.
Pertambangan nikel dan fenomena konflik sosial. Tampakanya masuknya industry tambang nikel telah merubah hubungan sosial dalam masyrakat pula, seketika mereka sensitive akan persoalan batas tanah atau kepemilikan tanah mereka diubah menjadi kapitalis kecil yang serakah yang dulunya interaksi sosial bersifat asosiatif menjaadi disosiatif  yang bersifat konfliktual. Yang akhirnya membawa perpecahan , permusuhan, dan konflik dalam masyrakat dan masayrakat maupun masyrakat dengan pihak perusahaan, bahkan masyrakat dengan pemerintah .
Pertambangan dan penyingkiran kaum agraris. Meski keberadaan industry pertambangan memberikan oengaruh besar dalam mendorong program pembangunan daerah yang berpeluang meningkatkan kesjahtraan. Namun beragam masalah sosial tidak terhindarkan, penduduk yang yang tidak masuk dalam area wilayang pertambangan harus menelan kepahitan tidak adanaya royalty mauoun konpensasi besar seperti penduduk yang lahannya masuk wilayah tambah mereka juga harus menahan lapar akan kehilangan matapencahariaanya sehingga masyarakat melakukan pressure group yang berbuah  ganti rugi.
Antara harapan dan kenyataan pahit, itulah keadaan yang dirasakan pada wilayah palangga yang dimasuki industry tambang nikel diderahnya. Mereka megakui bahwa telah merubah kehidupan sosial ekonomi informan. Kenikmatan yang dirasakan para industriawan tidak ada apa-apanya dibanding ketidak tampakkan akan dampak besar yang sedang menanti bumi konawe selatan. Satu sisi merupakan harapan sebagian kelompok orang sisi lainnya adalah kepahitan bagi mereka.
                                                            

2 komentar:

  1. Ran.. bahas ttg teori struktural fungsional..dll

    BalasHapus
  2. Win Princess Bet Bonus | Bet Now! | LACBET 온카지노 온카지노 카지노 카지노 bk8 bk8 1515DraftKings Sportsbook, $250 Risk-Free Bet and $100

    BalasHapus