Kasus
fenomena kaum marjinal
Bagian tiga
mendeksripsikan inti pokok pembahasan dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan secara
langsung dilapangan oleh penulis buku ini. Di dalamnya telah digambarkan berbagai kisah pilu dari masyarkat kaum
marjinal yang merintih akibat pancakelik
duka nestapa kemiskinan dibalik program pengentasan kemiskinan bertopeng kemunifakikan para penguasa yang
semrawut dalam menjalankan tugasnya. Beragam potret kemarjinalan tersebut salah
satunya ada di kecamatan landono yang masyrakat lokalnya menderita ditanah
kelahiran sendiri sedangkan para pendatang dari konsel, bali maupun jawa Nampak
sukses ditanah mereka. Diketahuai karena etos kerja yang dimiliki dalam ketiga
etnis tersebut turut mempengaruhinya serta sikap subsisten yang masih dimiliki
penduduk landono kegagalan para pribumi ternyata adanya ketidak mampuan mereka
untuk memfaatkan peluang lahan tidur diderah mereka yang berfotensial etos
kerja yang malas tersebut menjadikan mereka tertinggal dengan mereka yang
pendatang baru. Hal serupa juga terjadi pada bagian wilayah moramo utara dimana
para wanita berperan ganda disektor public dan domestic mencari kebutuhan hidup
yang subsisten agar dapat bertahan hidup dengan melawan keadaan menjadi pemecah
batu untuk jadikan suplit dan merangkap melakukan pekerjaan rumah tangga ketika
pulang. Sebagaimana pada masyrakat nelayan dibungin ketergantungan akan iklim
menjadikan kebutuahan hidupnya tidak menentu (uncertaintly) sehingga menjadikan
mereka mencari alternatif lainnya dengan peran para istri yang lebih didominasi
untuk menjadi tulang punggung keluarga untuk menopang kehidupan keluarga mereka.
Sehingga sangat disayangkan keadaan tersebut terus menerus berlanjut maka
sangatlah wajar jika kemiskinan menjadi bagian yang terus menghantui kehidupan
mereka setiap hari.
Tentu saja etos kerja
yang tinggi tidak cukup untuk membebaskan dari jerat kemiskinan meskipun bukan
dipelosok desa, seperti yang terjadi di desa konda yang notabenenya komunitaas
penjual sayur tetap mengalami kemelut tersebut membutuhkan pertolongan untuk
modal usaha mereka dari pemerintah. Lain halnya pada masyarakat pencetak batu merah
di ranoomeeto sosial ekonomi yang mempertegas etos kerja kapitalisme para
pemilik modal memangkas biaya sedemikian rupa untuk keuntungannya berbanding
terbalik dengan upah buruh pekerja yang datang mencari nafkah demi sesuap nasi
di desa tersebut mengalami alineasi menggunakan tenaga secara fisik tanpa
protes dengan upah yang diperoleh. Sedangkan potret kemiskinan yang terjadi
pada masyarakat wolasi yang selalu berladang pindah-pindah mengambarkan
ditengah modernisasi saat ini ada suatu kelompok masyrakat yang bertahan hidup
dengan cara konvensional dan memanfaatkan alam sebagai penyambung hidup
keluarga meski dengan berpindah-pindah. Gambaran kondisi masyrakat di atas
dengan berbagai kepiluan untuk sekedar meminta pertolongan memenuhi kebutuhan
sehari-hari dengan merelakan berbagaimacam ketertidasan, ketimpangan dan
penerimaan akan hal ini secara terus menerus. hal wajar jika masyarakt terjerat
kemiskinan. Pertanyaan yang muncul dimanakah para penguasa yang mengatur
kesejahtraan negri ini yang pada awal selalu menyurakan kesejahtraan
masyarakat.
Eksploitasi
kapitalisme agraris
Pada bab ini
menguraikan potret keadaan pedesaan di desa palangga tak ubanya lautan debu
dengan dentuman mesin-mesin industry tambang yang menyesakkan. Wajah desa yang
dulunya tenang dengan keasrian dan kesejukkannya kini telang hilang akibat
masuknya makelar-makelar kapitalisme yang menguasai lahan-lahan kosong mereka
yang ternyata di balik kediamannya mengandung kekayaan material yang mengiurkan
para kanibalisme modern. Yang dalam sekejap mendatangkan mobil-mobil raksasa mengitari
hutan asri nan tak berpenghuni menjadi sirkuit mereka yang menandakan telah
takluknya akan moderenisasi dan industrialisasi yang rakus akan kemegahan
materialism.
Fenomena eksploitasi
Agraris, ekspolitasi tidak hanya terjadi pada
struktur fisik hutan yang semakin kehilangan eksistensinya. Rupanya eksploitasi
kapitelisme agraris juga merabat pada
polarisasi kehidupan ekonomi sosial penduduk palangga sekitar. Masyarakat yang
tidak masuk pada sector tambang menjadi korban mereka yang bekerja disektor
agraris harus mengalami penurunan pendapatan sejak masuknya industry tersebut.
Sedangakan mereka yang memiliki wilayah tanah areal pertambangan mendapat uang
kaget dan menaikan status mereka yang tanpa mereka sadari mereka telah
tergantung dengan dimajakannya melalui kompensasi dan rolayalti pembebasan
tanah yang tidak tau suatu waktu akan diabaikan pula mereka tiba-tiba menjadi
milayder baru yang keluar dari gubuk kumuh mereka. Sementara mereka yang
mendapatkan remah-remah industry tersebut hanya diberikan uang penutup lara
mereka untuk menghibur dari lautan debu mobil-mobil industry tersebut yang
menyesakkan pernapasan. Yang sewaktu-waktu akan mengadu domba atau memecah
belah lapisan-lapisan masyrakat di wilayah pertambangan
Industry pertambangan
dan degradasi lingkungan sosial. Keadaan eksploitasi
yang dilakukan penambang nikel ibarat menunggu bom waktu yang siap meledak,
yang juga membawa dampak negative berupa benca alam dan kerusakan lingkungan yang
diakibantkannya pada wilayah palangga. Meskipun ada ganti rugi hal ini tidak
dapat menyembunyikan permasalahan yang ada pada masyrakat sebagaian kepala
keluarga harus kehilanggan matapecahariannya karena bergantung pada hasil
sumber daya alam yang semakin berkurang pada petani rumput laut. Mereka tidak
dapat penghasilan sebagaimana sebelum masuknya industry tersebut ganti rugi
tidak setara dengan penghasilan yang diperleh setiap bulannya.
Pertambangan nikel dan
fenomena konflik sosial. Tampakanya masuknya industry
tambang nikel telah merubah hubungan sosial dalam masyrakat pula, seketika
mereka sensitive akan persoalan batas tanah atau kepemilikan tanah mereka
diubah menjadi kapitalis kecil yang serakah yang dulunya interaksi sosial
bersifat asosiatif menjaadi disosiatif
yang bersifat konfliktual. Yang akhirnya membawa perpecahan ,
permusuhan, dan konflik dalam masyrakat dan masayrakat maupun masyrakat dengan
pihak perusahaan, bahkan masyrakat dengan pemerintah .
Pertambangan dan
penyingkiran kaum agraris. Meski keberadaan industry pertambangan memberikan
oengaruh besar dalam mendorong program pembangunan daerah yang berpeluang
meningkatkan kesjahtraan. Namun beragam masalah sosial tidak terhindarkan,
penduduk yang yang tidak masuk dalam area wilayang pertambangan harus menelan
kepahitan tidak adanaya royalty mauoun konpensasi besar seperti penduduk yang
lahannya masuk wilayah tambah mereka juga harus menahan lapar akan kehilangan
matapencahariaanya sehingga masyarakat melakukan pressure group yang berbuah ganti rugi.
Antara harapan dan
kenyataan pahit, itulah keadaan yang dirasakan pada
wilayah palangga yang dimasuki industry tambang nikel diderahnya. Mereka megakui
bahwa telah merubah kehidupan sosial ekonomi informan. Kenikmatan yang
dirasakan para industriawan tidak ada apa-apanya dibanding ketidak tampakkan
akan dampak besar yang sedang menanti bumi konawe selatan. Satu sisi merupakan
harapan sebagian kelompok orang sisi lainnya adalah kepahitan bagi mereka.
Ran.. bahas ttg teori struktural fungsional..dll
BalasHapusWin Princess Bet Bonus | Bet Now! | LACBET 온카지노 온카지노 카지노 카지노 bk8 bk8 1515DraftKings Sportsbook, $250 Risk-Free Bet and $100
BalasHapus